Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Nasihat Sayidina Umar. Show all posts
Showing posts with label Nasihat Sayidina Umar. Show all posts

Monday, January 21, 2019

Orang Alim Yang Cinta Dunia

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:
 
“Jika kalian melihat orang alim yang mencintai dunia, maka jangan hiraukan agamanya. Sesungguhnya setiap orang yang mencintai sesuatu, maka ia akan tenggelam di dalamnya.”
 
Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tanbihul Mughtarin, halaman 16.
 
Orang alim adalah orang yang memiliki ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan agama. Menurut Sayidina Umar ra, kalau ada seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang agama, namun mencintai dunia, maka jangan hiraukan apa pun yang terkait dengan persoalan agama darinya. Mengapa? Karena sesungguhnya agama baginya bukanlah sebuah pedoman hidup yang harus dihayati, melainkan sekedar alat untuk memperoleh apa pun yang dikehendakinya dari dunia. Dengan kata lain, orang yang seperti itu lebih mendamba kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat yang oleh agama sangat dianjurkan untuk meraihnya.
 
Pada prinsipnya, seseorang yang mencintai sesuatu akan tenggelam dalam sesuatu itu. Seorang ulama seharusnya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia lebih memilih untuk menenggelamkan diri menempuh segala sesuatu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada seorang ulama yang lebih memilih untuk mencintai dunia dan mendamba isinya, maka hal itu sudah menjadi bukti bahwa ia lebih memilih sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah dan Rasul-Nya. Bila demikian, pantaskah bagi kita memperhatikannya dalam urusan agama?
Share:

Wednesday, December 12, 2018

Orang yang Pintar Bicara

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Hal yang paling aku takutkan menimpa umat ini adalah adanya orang yang hanya pintar bicara, namun tidak mengenal hatinya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tanbihul Mughtarin, halaman 16.

Apa yang ditakutkan Sayidina Umar bin Khaththab ra ini sebenarnya sudah terjadi. Perhatikanlah sekeliling Anda niscaya Anda akan menemukan orang-orang yang dimaksud oleh Sayidina Umar ra. Mereka adalah orang-orang yang pandai berkata-kata. Dengan kata-kata, mereka mampu menghipnotis banyak orang, menyentuh perasaan, dan memukau siapa pun yang mendengarkannya. Namun sayang, ucapan yang mereka sampaikan tidak bersesuaian dengan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Orang yang pandai berbicara, namun tak mengenal hatinya, maka nasihat-nasihat baik yang mengalir dari lisannya takkan menambah kebaikan sedikit pun pada dirinya. Itu terjadi karena kebaikan yang ia bicarakan hanya ada di mulutnya, bukan di hatinya. Kalau ia menyampaikan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist-hadist Rasulullah, maka keduanya itu hanya sampai di tenggorokannya, tak pernah mengalir hingga ke relung kalbunya. Orang seperti ini ‘menipu’ orang lain dan menipu dirinya sendiri.

Dikatakan ia menipu orang lain karena pada ucapannya ia menganjurkan kebaikan, namun ia sendiri tak melakukannya. Dikatakan ia menipu dirinya sendiri karena ia akan selalu menyangka bahwa dirinya memiliki kepribadian sempurna. Menurutnya kesempurnaan kepribadiannya itu terbukti pada kemampuannya berbicara tentang kebaikan. Namun sayang, ia lupa bahwa kebaikan itu tak sampai di hatinya. Inilah salah seorang kaum yang tertipu.

Melalui ucapannya ini, Sayidina Umar ra menasihati kita agar jangan sampai menjadi manusia yang hanya pandai berbicara, namun sama sekali tak mengenal keadaan hati. Berusahalah semaksimal mungkin menyelaraskan antara niat di hati, ucapan di lisan, dan perbuatan yang tampak, karena keselarasan itu merupakan cerminan sempurnanya iman yang ada di dalam diri seseorang.
Share:

Wednesday, December 5, 2018

Orang yang Paling Kusuka

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Orang yang paling aku sukai adalah orang yang mengungkapkan padaku aib-aibku.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad, III/156.

Selain sebagai nasihat bagi kita, ungkapan ini merupakan gambaran kepribadian Sayidina Umar bin Khaththab ra, yang selalu merasa senang apabila ada seseorang yang berani dan tegas menyampaikan aib yang ada pada dirinya. Kepribadian semacam ini yang jarang sekali dimiliki oleh manusia.

Sebagian besar manusia lebih merasa senang terhadap orang yang selalu memuji, menyanjung, dan mengunggul-unggulkannya daripada yang membeberkan aibnya kepadanya. Akibatnya, sebagian besar manusia jauh lebih mudah menemukan aib orang lain daripada aibnya sendiri.

Pentingkah bersikap lapang dada mendengarkan ucapan orang lain yang menyebutkan kepada kita aib kita? Ya, ini adalah hal yang sangat penting. Biasanya kita selalu menganggap diri kita telah sempurna dan jauh lebih baik daripada orang lain. Anggapan seperti itu membuat kita selalu meremehkan orang lain dan memandang rendah kepada mereka. Sebenarnya, yang paling jelas melihat aib dan kekurangan kita adalah orang lain. Merekalah yang melihat dan menilai cara kita bersikap dan bertutur sapa. Orang lain bisa merasakan apakah ucapan yang kita sampaikan menyakitkan hati atau tidak; dan orang lain pula yang dapat merasakan akibat tindakan kita terhadap mereka.

Ketika seseorang datang kepada Anda, lalu ia menyampaikan berbagai macam kekurangan Anda yang menurutnya jelas ia lihat ada pada diri Anda, maka berterimakasihlah padanya. Mengapa? Karena ia pasti menyampaikannya secara jujur dan tak mengharapkan imbalan apa pun dari Anda. Namun, jika seseorang datang kepada Anda, lalu ia menyampaikan sanjungan dan pujian, menempatkan Anda pada posisi manusia sempurna, maka berhati-hatilah padanya. Mengapa? Karena ia tak mungkin jujur pada Anda, bahkan ia akan menyampaikan kebaikan-kebaikan yang boleh jadi tak ada dalam diri Anda. Waspadalah terhadap orang yang demikian itu. Selain ia menyembunyikan sesuatu, berupa keinginan untuk mendapatkan imbalan, sesungguhnya ia pun hendak menjerumuskan Anda dengan membuat Anda lupa pada berbagai aib dan kekurangan Anda.

Itulah sebabnya Sayidina Umar ra mengatakan lebih suka terhadap orang yang menyampaikan kepadanya aib-aibnya. Orang yang seperti itu selain jujur, ia pun memiliki niat baik, yakni hendak menyelamatkan kita dari ketertipuan terhadap diri sendiri. Orang yang tidak pernah sadar akan aib dirinya akan selalu merasa sempurna, sehingga ia akan berhenti dalam usaha memperbaiki diri. Sementara, orang yang selalu sadar akan berbagai kekurangan yang dimilikinya, akan terus berusaha memperbaiki diri dan terus bergerak ke arah kesempurnaan. Beruntunglah bila Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa menyadari aib diri sendiri dan sibuk untuk memperbaikinya.
Share:

Sunday, December 2, 2018

Jangan Menganiaya Diri Sendiri

Diriwayatkan dalam satu nasihatnya, Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Tidak seorang manusia pun yang mampu mencelakakan dirimu, karena sesungguhnya apa yang ditakdirkan untukmu itu akan tetap menimpamu, walaupun tanpa mereka. Janganlah engkau sia-siakan waktu siangmu, sesungguhnya segala yang engkau lakukan itu tercatat (diawasi).

Jika engkau melakukan keburukan, maka ikutilah dengan perbuatan baik. Sungguh tidak ada sesuatu pun yang lebih besar tuntutannya dan lebih cepat pendapatannya daripada amalan baik yang baru setelah melakukan dosa yang telah lalu.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, III/143.

Melalui nasihat ini, Sayidina Umar bin Khaththab ra berpesan kepada kita agar jangan menganiaya diri sendiri. Ada banyak perilaku yang dilakukan manusia, yang tanpa ia sadari telah mamasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Dua di antaranya disebutkan oleh Sayidina Umar ra di dalam nasihatnya ini.

Pertama, orang yang menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya. Ketahuilah, setiap detik dari waktu kehidupan yang Allah anugerahkan kepada kita akan diminta oleh-Nya pertanggungjawaban. Tak ada yang tak berarti dari setiap tarikan dan hembusan napas yang kita lakukan. Disebabkan adanya tanggung jawab yang harus kita berikan di hadapan Allah kelak, maka jangan pernah menyia-nyiakan waktu. Gunakan setiap detik kehidupan ini untuk sesuatu yang menambah catatan amal kebaikan kita di sisi Tuhan.

Guliran waktu akan terus berlangsung sebelum Allah berkehendak menghentikannya. Selama guliran itu, waktu memberikan kesempatan penuh kepada kita untuk melakukan apa pun yang kita kehendaki. Waktu tidak memilihkan kepada kita apa yang terbaik untuk kita, dan ia pun tidak mampu menjerumuskan kita ke lembah maksiat yang mengundang murka Allah. Ia hanya bergulir dan menghamparkan segalanya untuk kita. Kitalah yang memutuskan, apakah waktu yang bergulir itu kita manfaatkan untuk sesuatu yang berarti, atau kita mengisinya dengan hal-hal yang hanya akan merugikan kita di kehidupan akhirat kelak.

Sayidina Umar ra menasihatkan kita agar jangan menyia-nyiakan waktu. Artinya, isilah waktu yang disediakan Tuhan dalam kehidupan kita ini dengan sesuatu yang berarti dan yang dapat memberikan kebahagiaan kepada kita kelak di yaumil akhir. Orang yang mampu memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan berbagai macam amal saleh, dialah orang yang beruntung baik di dunia maupun di akhirat.

Sedangkan orang yang menyia-nyiakan waktu, membiarkannya berlalu begitu saja, atau mengisinya namun dengan sesuatu yang sia-sia, maka dialah orang yang merugi. Dan orang semacam ini termasuk ke dalam golongan manusia yang menganiaya diri sendiri.

Kedua, orang yang mengerjakan keburukan secara terus menerus, tanpa menyertainya dengan kebaikan. Ini merupakan bentuk penganiayaan terhadap diri sendiri. Orang yang mengerjakan keburukan tanpa mengiringinya dengan perbuatan baik laksana orang yang terjerumus ke kubangan lumpur dan tak bisa keluar darinya. Bila sudah demikian, mungkinkah ia akan bisa membersihkan dirinya?

Sesungguhnya di dalam kehidupan ini, orang yang baik itu bukanlah orang yang tak pernah berbuat dosa. Orang yang baik adalah orang yang pernah khilaf melakukan perbuatan dosa, lalu menyadarinya, bertaubat, dan mengiringi perbuatan dosanya itu dengan amal saleh. Begitu pentingkah mengiringi perbuatan buruk yang mengandung dosa dengan perbuatan baik yang menghasilkan pahala? Ya, sangat penting. Sayidina Umar ra mengatakan, “Sungguh tidak ada sesuatu pun yang lebih besar tuntutannya dan lebih cepat pendapatannya daripada amalan baik yang baru setelah melakukan dosa yang telah lalu.” Artinya adalah amalan baik yang mengiringi perbuatan dosa itu bisa segera membuat Allah berkenan mengampuninya. Syaratnya tentu saja amalan baik itu dikerjakan secara ikhlas, hanya demi mengharap keridhaan Allah Ta’ala.

Namun perlu diingat bahwa tidak layak bagi kita untuk ‘mempermainkan’ Tuhan dengan cara berbuat buruk, lalu berbuat baik, kemudian berbuat buruk lagi, dan demikian seterusnya. Tentu tidak demikian kesimpulannya. Sikap terbaik yang harus kita pilih adalah berusaha semaksimal mungkin untuk selalu berbuat baik. Namun, saat kekhilafan menghampiri, lalu melakukan sesuatu yang melanggar perintah Allah, segeralah sadar dan bertaubat, dan iringi kekhilafan itu dengan berbuat kebajikan. Niscaya yang demikian itu akan mempercepat turunnya ampunan Allah.

Nah, orang yang sama sekali tak mengiringi perbuatan buruknya dengan perbuatan baik, sama artinya dengan orang yang membiarkan dirinya terus menerus berada dalam gelimangan dosa. Ketahuilah, sikap seperti itu merupakan bentuk nyata penganiayaan terhadap diri sendiri.
Share:

Friday, November 30, 2018

Dua Golongan Manusia

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Manusia itu terbagi menjadi dua golongan: Pertama, golongan yang mencari dunia, maka menghindarlah darinya. Sesungguhnya boleh jadi ia memperoleh apa yang ia cari, namun justru ia hancur karena yang ia dapatkan itu. Dan bisa jadi ia kehilangan apa yang ia cari, lalu ia hancur karena kehilangan itu.

Kedua, golongan yang mencari akhirat. Jika engkau menemui salah satu dari mereka, maka berlomba-lombalah dengannya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Bayan wat Tabyin, III/138.

Tidak semua manusia di dunia ini layak dipergauli. Di antara mereka ada orang-orang yang hanya menunjukkan kepada kita jalan-jalan kehancuran, namun ada pula yang memperlihatkan kepada kita jalan-jalan kebahagiaan.

Sayidina Umar bin Khaththab ra membagi manusia yang ada di dunia ini ke dalam dua golongan. Golongan pertama adalah kumpulan orang-orang yang hanya mencari dunia, mendambanya, dan pada akhirnya menjadi budaknya. Sedangkan golongan kedua adalah kumpulan orang-orang yang lebih memilih untuk meraih kebahagiaan akhirat. Mereka tidak tergoda oleh gemerlap dunia karena telah mengetahui hakikatnya yang bersifat sementara.

Kepada kita Sayidina Umar ra memberi nasihat agar menghindar dari golongan pertama, jika kita bertemu dengan mereka. Mengapa harus menghindar? Ketahuilah, orang-orang yang mencari dunia apabila bertemu dengan Anda, maka yang akan dibicarakannya pastilah hal-hal yang bersifat keduniawian. Setiap sudut hatinya telah terisi oleh kehendak untuk memiliki dunia dengan segala yang ada di dalamnya. Ia akan menceritakan kepada Anda apa saja yang telah ia raih dan apa saja yang masih menjadi impiannya. Kalau ia telah mampu meraih isi dunia dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada yang Anda raih, maka ia akan merendahkan Anda. Akibatnya, Anda pun akan terdorong untuk melakukan segala macam cara agar bisa menyamainya, bahkan melebihnya. Bila itu yang terjadi, Anda akan masuk ke dalam lingkaran mereka, dan takkan pernah meraih kepuasan di dalamnya.

Sayidina Umar ra menjelaskan, orang-orang yang mencari dunia seringkali mengira dunia akan mampu membahagiakannya. Padahal boleh jadi yang diraihnya dari dunia itu justru menjadi sumber malapetaka yang akan menghancurkannya. Saat ini pun kita bisa saksikan, popularitas dan gelimangan harta telah memasukkan banyak orang ke jurang kehancuran. Jalannya bisa melalui penggunaan narkoba, pergaulan bebas, perjudian, dan sebagainya.

Di sisi lain, kehancuran pun akan dialami oleh para pencari dunia saat ia mengalami kehilangan atas apa yang telah diperolehnya. Meraih dunia tidaklah memberi kepuasaan. Sebaliknya, akan memuncul perasaan kurang, kurang, dan kurang. Rasanya, apa yang telah diraih itu selalu tidak mampu memenuhi tuntutan kehendak, bahkan sering kali memunculkan kehendak-kehendak baru. Saat seseorang sangat menghendaki dunia, maka ia tak ingin sedikit pun berkurang segala sesuatu yang telah diperolehnya dari dunia. Nah, inilah awal malapetaka. Bila kenyataan hidup pada akhirnya membawanya pada kehilangan sebagian atau seluruh kekayaan yang telah diraihnya, maka ia akan hancur karena kehilangan itu. Itulah sebabnya Sayidina Umar ra mengatakan pada kita agar menghindar dari mereka.

Namun, bila kita bertemu dengan golongan kedua, segeralah mendekat padanya. Mereka akan mengajak Anda berlomba untuk meraih kebahagiaan akhirat. Caranya adalah dengan perlombaan saling memperbanyak kebajikan di kehidupan dunia ini.
Share:

Wednesday, November 28, 2018

Kalau Bukan Karena Tiga Hal

Disebutkan bahwa Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Kalau bukan karena tiga hal, maka aku lebih suka bertemu dengan Allah (mati). Kalau bukan karena berjalan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, kalau bukan demi meletakkan dahiku karena Allah (sujud dan shalat), atau kalau bukan karena bermajelis bersama kaum yang hanya memiliki obrolan yang terbaik, sebagaimana memilih kurma yang terbaik (niscaya aku lebih memilih untuk mati).”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’, I/71.

Tahukah Anda apa yang ingin dinasihatkan Sayidina Umar ra kepada kita lewat ucapannya ini? Beliau ingin katakan kepada kita bahwa kita harus memiliki dasar yang kuat mengapa kita bersedia menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, Anda harus tahu mengapa Anda bersedia untuk terus bertahan menjalani hidup ini?

Bagi Sayidina Umar bin Khaththab ra ada tiga alasan yang membuatnya lebih memilih hidup daripada mati:

1. Karena ingin tetap berjalan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.
2. Karena ingin tetap shalat dan bersujud di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.
3. Karena ingin tetap bisa duduk di dalam majelis yang tidak ada sesuatu apa pun yang diperbincangkan di dalamnya selain hal-hal yang membuat manusia semakin dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Setiap orang berhak mengajukan alasannya sendiri-sendiri. Di antara manusia ada yang bertahan hidup demi anak-istrinya, demi harta dan kekayaannya, demi jabatannya, dan sebagainya. Namun, Sayidina Umar ra memberitahukan kepada kita tiga alasan yang jauh lebih mulia daripada alasan-alasan tersebut; yang dengannya layak bagi kita untuk tetap bertahan hidup di dunia ini.

Makna lain yang bisa dipetik dari ungkapan Sayidina Umar ra di atas adalah jika di dunia ini kita tidak mampu untuk tetap berjalan di atas jalan yang diridhai Allah, tidak bersedia untuk sujud di hadapan-Nya, dan tidak pernah hadir di majelis yang di dalamnya diperbincangkan hal-hal yang bisa mendekatkan diri manusia kepada Allah, maka itu artinya kematian jauh lebih baik bagi kita daripada kehidupan. Mengapa demikian? Karena keadaan itu telah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kita jauh dari hal-hal yang diridhai Allah, dan jika kematian tidak segera menghampiri, maka keadaan itu hanya akan semakin menambah catatan dosa kita di sisi Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, jika Anda ingin tetap hidup, hiduplah dengan melaksanakan segala sesuatu yang membuat Tuhan ‘tersenyum’ pada Anda. Hanya dengan cara itulah hidup Anda akan menjadi mulia, baik dalam pandangan manusia maupun Tuhan. Kalau Anda mampu melakukannya, maka Anda memang layak untuk hidup.
Share:

Friday, November 16, 2018

Penyebab Matinya Hati

Sayidina Umar bin Khaththab ra diriwayatkan pernah berkata:

“Barangsiapa yang banyak tertawanya, akan sedikit kewibawaannya. Barangsiapa yang bergurau, ia akan dilecehkan. Barangsiapa yang banyak dalam suatu hal, maka ia akan dikenal dengannya. Dan barangsiapa yang banyak bicaranya, banyak pula kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka sedikitlah rasa malunya. Barangsiapa yang sedikit rasa malunya, maka sedikit pula sikap wara’nya (kehati-hatiannya). Dan barangsiapa yang sedikit sikap wara’nya, maka matilah hatinya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Shifatush Shafwah, I/149.

Melalui nasihatnya ini, Sayidina Umar ra menjelaskan kepada kita hal-hal yang bisa membawa hati seseorang sampai kepada keadaan mati. Menurut Sayidina Umar ra, sikap awal yang beresiko menyebabkan matinya hati seseorang adalah banyak tertawa.

“Ah…, mana mungkin tertawa bisa menyebabkan hati menjadi mati?” Mungkin Anda akan berkata seperti itu. Ya, tak bisa dipungkiri bahwa kita memang butuh untuk tertawa. Tertawa bisa meminimalkan dampak stress terhadap kesehatan. Namun, yang dimaksud oleh Sayidina Umar ra di sini adalah banyak tertawa atau tertawa secara berlebihan. Tentunya kita sepakat bahwa apa pun yang berlebihan akan menimbulkan akibat yang tidak baik.

Banyak tertawa akan mengurangi, bahkan menghilangkan, kewibawaan. Perhatikanlah orang-orang yang berprofesi sebagai komedian. Di mana letak kewibawaan mereka? Senda gurau dan canda tawa yang selalu mereka mainkan membuat kewibawaan lenyap dari kehidupan mereka. Rasa saling menghormati dan menghargai menjadi pudar. Bagi mereka yang penting bisa membuat orang lain tertawa. Hilangnya kewibawaan dari diri seseorang menyebabkannya mudah dilecehkan orang lain.

Saat seseorang bergurau dan bercanda dengan teman-temannya, simaklah apa yang mereka ucapkan. Sering kali yang kita dengar adalah ucapan-ucapan yang mengandung kebohongan dan tanpa makna. Ucapan-ucapan seperti itu, bila dibandingkan manfaatnya cenderung lebih banyak mudharatnya. Orang yang banyak berucap tanpa memperhatikan kualitas ucapannya, hanya akan memperbanyak kesalahannya. Menurut Sayidina Umar ra, orang yang banyak melakukan kesalahan merupakan gambaran menipisnya rasa malu yang ada pada dirinya. Kalau rasa malu telah hilang, maka sikap kehati-hatian pun akan lenyap, dan itulah tahap akhir yang mengantarkan seseorang pada kondisi hidup dengan keadaan hati yang mati.

Kalau hati sudah mati, maka nilai manusia pasti akan jatuh, bahkan lebih rendah daripada seekor hewan. Kok bisa? Ya, karena hati yang mati takkan pernah lagi memperoleh aliran petunjuk dari Allah Ta’ala. Orang yang hidup tanpa petunjuk Allah akan dituntun oleh dorongan nafsunya. Sehingga setiap perbuatannya adalah cerminan dari kehendak nafsu yang telah menguasainya. Padahal, nafsu selalu menuntun manusia kepada perbuatan maksiat terhadap Allah Swt.

Oleh karena itu, bila ingin hati kita tidak menjadi mati, yang harus kita lakukan adalah:

  • Bergurau dan tertawalah secara sederhana. 
  • Perbanyak melakukan kebaikan, maka Anda akan dikenal karena kebaikan itu. 
  • Berhati-hati dalam berucap dan jangan sampai mengucapkan kata-kata yang hanya akan menambah catatan kesalahan Anda di sisi Allah. 
  • Tanamkan dalam diri rasa malu, terutama kepada Allah. 
  • Bersikap hati-hati (wara’) dalam menjalani hidup ini.
Share:

Tuesday, November 13, 2018

Hamba Allah yang Bisa Melihat dengan Hatinya

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang memusnahkan kebatilan dengan meninggalkannya dan menghidupkan kebenaran dengan mengamalkannya. Mereka didorong untuk beramal, maka mereka pun giat beramal. Mereka diperingatkan untuk menjauhi kemaksiatan, maka mereka pun menjauhinya. Mereka takut kepada azab-Nya dan tidak merasa aman terhadapnya.

Karena yakin, mereka bisa melihat dengan hatinya apa yang tidak bisa dilihat oleh mata fisiknya. Mereka mencampur keyakinan dengan campuran yang tidak menodainya, bahkan menjadikannya semakin murni, yaitu rasa takut kepada murka-Nya. Maka mereka menjauhi dunia yang akan terputus, demi menggapai akhirat yang kekal.

Bagi mereka, hidup adalah sebuah kenikmatan dan mati adalah sebuah kemuliaan.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Hilyatul Auliya’, I/55.

Melalui ungkapan ini, Sayidina Umar ra menjelaskan kepada kita, bahwa di antara manusia ada hamba-hamba Allah yang mampu melihat dengan mata hatinya segala sesuatu yang tak mampu dilihat oleh mata fisiknya. Kemampuan ini tentunya hanya dimiliki oleh orang-orang yang dikehendaki Allah. Ini merupakan salah satu bentuk anugerah Allah untuk mereka karena sejumlah keutamaan yang mereka miliki.

Apa keutamaan mereka itu? Sayidina Umar ra mengatakan, mereka memusnahkan kebatilan –terutama dari diri mereka—dengan cara meninggalkannya, lalu menggantinya dengan kebenaran yang mereka hidupkan dengan cara mengamalkannya di tengah aktivitas sehari-sehari yang mereka jalani. Mereka selalu merasa takut terhadap azab Allah dan tak pernah merasa aman darinya, sehingga memaksimalkan usaha mereka untuk tidak melakukan kemaksiatan terhadap-Nya, baik secara lahir maupun batin.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini senantiasa merasa dipantau oleh Allah dalam setiap ruang dan waktu di mana mereka berada. Keyakinan ini sangat mendalam pada diri mereka sehingga memunculkan perasaan malu terhadap Allah. Perasaan malu inilah yang dewasa ini telah hilang dari kebanyakan manusia. Akibatnya, mereka bersikap sangat berlebihan dalam urusan dunia dan mengabaikan urusan akhirat. Namun, manusia-manusia yang dibuka Allah pandangan hatinya takkan berbuat seperti itu, karena mereka diberi Allah kemampuan untuk melihat hakikat dunia. Itulah sebabnya mereka menjaga jarak dan menjauh dari dunia. Mereka hanya mengambil dunia dalam jumlah yang sangat sedikit, hanya sekedar untuk menunjang pengabdian mereka kepada Allah Ta’ala. Mereka lebih memilih meraih kebahagiaan akhirat yang kekal daripada kemewahan hidup di dunia yang hanya sebentar. Bagi mereka, kematian adalah jalan menuju kemuliaan abadi di sisi Allah Yang Maha Kuasa.

Melalui ungkapannya ini, Sayidina Umar bin Khaththab ra sebenarnya menasihati kita agar mencontoh sikap-sikap para hamba Allah yang bisa melihat dengan hatinya itu. Bukanlah hal yang mustahil bila kita pun akan bisa seperti mereka. Asalkan kita berusaha dan memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka atas izin Allah, kita akan sampai pada derajat seperti yang para hamba Allah tersebut telah gapai. Nah, sekarang pilihan di tangan Anda. Apakah Anda mau seperti mereka?
Share:

Monday, November 5, 2018

Nasehat untuk Penguasa

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah menyampaikan wasiat untuk para khalifah setelahnya, dan ini pun sekaligus nasihat untuk para penguasa saat ini dan di masa yang akan datang. Inilah wasiat dan nasihat itu:

“Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, berhati-hati dengan ancaman-Nya, takut akan murka-Nya, karena Dia melihatmu berada dalam keragu-raguan.

Dan aku nasihatkan kepadamu agar takut kepada Allah dalam mengatur manusia, bukan takut kepada manusia saat engkau menaati Allah. Aku wasiatkan kepadamu agar engkau berlaku adil dalam menangani urusan rakyat, meluangkan waktu untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan jangan engkau utamakan yang kaya di antara mereka daripada yang miskin. Sesungguhnya hal itu –dengan izin Allah—akan menyelamatkan hatimu, menghapus dosamu, dan memberi kebaikan dalam segala urusanmu. Hingga engkau pasrahkan itu semua kepada Yang Maha Mengetahui rahasiamu, dan berada di antara engkau dan hatimu.

Dan aku perintahkan agar engkau bersikap tegas dalam menjaga perintah Allah, menegakkan hukum-hukum-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya. Baik orang yang mempunyai hubungan yang dekat maupun hubungan yang jauh denganmu. Janganlah engkau merasa kasihan untuk menerapkan hukuman Allah atas orang yang bermaksiat terhadap-Nya. Sebab, jika engkau merasa kasihan, niscaya pada saat itu engkau telah melanggar hukum-Nya sebagaimana pelaku kemaksiatan tersebut melanggar hukum-Nya.

Perlakukanlah semua orang secara sama. Janganlah engkau mempedulikan orang-orang yang harus menunaikan hak (yaitu orang-orang kaya), jangan pula engkau takut kepada celaan orang-orang yang mencela saat engkau melaksanakan hukum Allah. Jauhilah mementingkan diri sendiri dan sikap pilih kasih dalam kekuasaan yang Allah karuniakan kepadamu.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Bayan wat Tabyin,  II/46.

Ini adalah nasihat yang maknanya sangat dalam yang disampaikan oleh Sayidina Umar bin Khaththab ra kepada para penguasa. Seharusnya, siapa pun penguasa di dunia ini, saat ini, membaca nasihat itu dan menerapkannya dalam tugasnya. Namun sayang, kenyataan yang kita saksikan saat ini justru sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Sayidina Umar ra dalam nasihatnya ini.

Kepada kita semua, khususnya orang-orang yang diberi Allah amanah kekuasaan, Sayidina Umar ra menasihatkan agar selalu bertakwa kepada Allah Ta’ala. Caranya adalah:

  • Berhati-hati terhadap ancaman-Nya.
  • Merasa takut terhadap murka-Nya.
  • Berlaku adil dalam menangani urusan rakyat.
  • Menyediakan waktu khusus untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
  • Tidak mengutamakan yang kaya atas yang miskin.
  • Menegakkan hukum-hukum Allah secara tegas, baik kepada kerabat sendiri maupun orang lain.
  • Memperlakukan semua orang secara sama.
  • Dan, tidak mementingkan diri sendiri.

Inilah delapan butir pesan Sayidina Umar ra untuk para penguasa. Maka, wahai para penguasa, ingatlah bahwa kekuasaan yang kalian pegang merupakan amanah dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jalankanlah kekuasaan itu sesuai dengan kehendak Sang Pemberi amanah, yakni Allah Swt.
Share:

Saturday, October 27, 2018

Bacalah Al-Qur’an

Dalam salah satu nasehatnya, Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Bacalah Al-Qur’an, pelajarilah dan amalkanlah, niscaya engkau akan menjadi pemiliknya. Tidak ada seorang pun yang berhak untuk ditaati dalam maksiat kepada Allah. Menegakkan kebenaran dan mengingatkan kepadanya tidak akan mempercepat ajal dan mengurangi rezki.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Al-Bayan wat Tabyin,  II/70.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di dalamnya berisi firman-firman Allah Swt. Allah menurunkan al-Qur’an agar manusia mengerti dan memahami segala macam petunjuk-Nya. Pentingkah petunjuk itu? Ya, tidak sekedar penting, tapi sangat penting.

Allah adalah Pencipta sekaligus tempat kembali manusia. Allah Maha Tahu apa yang seharusnya dikerjakan oleh manusia agar ia selamat dalam menempuh kehidupannya, tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Melalui al-Qur’an, Allah Swt menyampaikan kepada manusia apa saja yang harus dikerjakannya dan apa saja yang harus dihindarinya. Mengamalkan yang diperintahkan Allah memberikan keselamatan bagi kita, sedangkan mengerjakan yang dilarang Allah menjerumuskan kita pada jurang kecelakaan. 

Dengan ungkapan di atas, Sayidina Umar ra mengajak kita mempelajari dan mengamalkan isi al-Qur’an, karena hanya dengan dua hal itulah kita akan selamat. Al-Qur’an selalu mengajak kita untuk taat kepada Allah. Segala ajakan yang bertentangan dengan ajakan al-Qur’an adalah menuju kemaksiatan, dan kita tidak wajib untuk mengikutinya, bahkan wajib untuk menolaknya. Mengamalkan isi al-Qur’an sama artinya dengan menegakkan kebenaran. Tegakkanlah kebenaran minimal dengan cara mengingatkan manusia agar selalu mengarah padanya dan tidak menyimpang darinya. Orang yang selalu memperjuangkan kebenaran, dengan mengikuti cara-cara yang dituntunkan oleh al-Qur’an, menurut Sayidina Umar ra, tidak akan mempercepat ajal dan tidak akan mengurangi rezki. Dengan kata lain, memperjuang kebenaran akan memperpanjang umur dan memperluas rezki. Maka, lakukanlah!
Share:

Friday, October 19, 2018

Harap dan Takut

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Andaikan ada suara dari langit yang mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian semua akan masuk surga, kecuali hanya satu orang saja.’ Sungguh aku takut jika itu adalah aku.

Dan seandainya ada penyeru yang menyeru, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian semua akan masuk neraka, kecuali satu orang saja.’ Maka aku berharap itu adalah aku.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’,  I/73.

Ini adalah dua hal penting yang harus ada dalam diri kita, yakni harap dan takut. Berharap agar kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang kelak memperoleh kenikmatan surga dan takut kalau kita termasuk ke dalam kelompok musuh-musuh Allah yang akan merasakan dahsyatnya siksa neraka. 

Berharap agar masuk surga harus ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai hal yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalamnya. Adalah keliru bila mengharapkan surga namun beramal dengan sesuatu yang menjerumuskan kita ke jurang neraka. Sebaliknya, adalah hal yang tidak tepat bila takut terhadap siksa neraka, namun beramal dengan sesuatu yang bisa membawa kita kepadanya.

Berharap masuk surga dan takut dimasukkan ke dalam neraka sama artinya memohon kepada Allah kekuatan, agar Dia menetapkan kita selalu taat kepada-Nya dan menghindarkan kita dari segala macam niat dan perbuatan yang dapat semakin menjauhkan kita dari keridhaan-Nya.
Share:

Wednesday, October 10, 2018

Andaikan Aku...

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata:

“Andai saja aku seekor kibas (domba) milik keluargaku, lalu mereka memberiku makan supaya aku gemuk. Hingga ketika aku sudah menjadi gemuk, dan orang-orang yang mereka sayangi mengunjungi mereka, lalu (aku disembelih) dan sebagian dijadikan sate, serta sebagian lagi dijadikan dendeng. Kemudian mereka memakanku dan membuangku sebagai kotoran, sehingga aku tidak pernah menjadi manusia.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab Tahdzib Hilyatil Auliya’, I/72.

Di dalamnya terdapat pengakuan jujur seorang Sayidina Umar bin Khaththab ra bahwa menjadi seorang manusia tidaklah mudah. Manusia merupakan makhluk paling mulia di antara seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Namun, bersamaan dengan kemuliaannya itu, manusia memiliki beban berat berupa tanggung jawab yang kelak harus diberikan di hadapan Tuhan. 

Allah menciptakan manusia tidaklah sia-sia dan tanpa tujuan. Manusia telah dipilih oleh-Nya sebagai khalifah di permukaan bumi ini. Kedudukan sebagai khalifah memberikan kepada manusia posisi yang paling mulia di antara makhluk lainnya, namun sikap tidak amanah dalam menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi dapat menyebabkan manusia menjadi makhluk paling hina di antara makhluk yang diciptakan Tuhan. 

Melalui ungkapannya ini, Sayidina Umar ra menasihatkan kepada kita agar benar-benar menjalani kehidupan ini sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Kalau tidak, jauh lebih baik bagi kita untuk menjadi seekor kibas yang kemudian disembelih, lalu dimakan, dan akhirnya menjadi kotoran yang dibuang. Mengapa Sayidina Umar ra menggambarkan demikian? Karena kehidupan kibas yang disembelih, dimakan, dan akhirnya menjadi kotoran itu tak pernah dimintai oleh Allah pertanggungjawaban sampai kapan pun, sehingga kotoran menjadi akhir segalanya baginya.
Share:

Sunday, October 7, 2018

Dua Macam Kesopanan

Sayidina Umar bin Khaththab ra pernah berkata: 

“Kesopanan itu ada dua, yaitu kesopanan yang bersifat zhahir dan kesopanan yang bersifat bathin. Kesopanan zhahir terletak pada baju yang bersih dan suci, sedangkan kesopanan bathin terletak pada sikap menjaga kehormatan diri.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam Kitab ‘Uyunul Akhbar, I/296 dan Al-Aqdul Farid, II/138.

Sayidina Umar bin Khaththab ra melalui nasihatnya ini menjelaskan kepada kita bahwa kesopanan itu tidak hanya sekedar ucapan baik dan untaian senyum yang kita perlihatkan pada orang lain. Menurut beliau, ada dua bentuk kesopanan: yang bersifat zhahir dan bersifat bathin.

Anda dikatakan memiliki kesopanan secara zhahir tatkala mengenakan pakaian yang bersih dan suci. Bersih dan suci tidak harus baru, yang penting terhindar dari segala yang bersifat najis. Tampilan yang baik akan menjauhkan kesan buruk. Maka, berpakaian yang bersih dan suci merupakan salah satu bentuk kesopanan yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun ada juga yang memahami bahwa pakaian yang bersih dan suci yang dimaksud oleh Sayidina Umar ra adalah yang diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan Allah. Ya, tentunya seseorang akan jauh lebih sopan bila menggunakan pakaian yang bersih dan diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan Tuhan. 

Kalau memang berpakaian bersih itu merupakan bentuk kesopanan, lalu mengapa banyak orang yang mengenakan pakaian bersih, namun berkelakuan tidak sopan? Menurut Sayidina Umar bin Khaththab ra, itu disebabkan ia tidak memiliki kesopanan secara bathin. Kesopanan bathin tercermin pada sikapnya yang menjaga kehormatan diri. Orang yang berkelakuan tidak sopan berarti mengabaikan kehormatan dirinya. Bentuk nyata sikap menjaga kehormatan diri adalah tidak melakukan hal-hal hina yang menyebabkan orang lain pun memandang hina kepada kita. Kalau kita mampu menghormati diri kita sendiri, niscaya orang lain pun akan menghormati kita. Sebaliknya, kalau kita menghinakan diri dengan melakukan hal-hal yang rendah, maka jangan salahkan orang lain, jika mereka pun merendahkan kita.
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online